Ketiga, Integratif. TNI harus terus membangun sinergi dengan seluruh komponen bangsa agar kekuatan TNI menjadi bagian dari kekuatan nasional dalam menjaga stabilitas, mengawal pembangunan, serta mendukung terwujudnya Indonesia yang semakin maju, berdaulat, adil dan makmur.
Keempat, Modern. Setiap prajurit dituntut menguasai Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) serta teknologi yang menjadi tanggung jawabnya, menggunakannya secara optimal dan terintegrasi, serta terus meningkatkan kemampuan guna menghasilkan daya tangkal dan daya tempur yang nyata.
Kelima, Adaptif. Setiap penugasan dan pengalaman harus dijadikan sebagai bahan pembelajaran untuk terus mengembangkan inovasi. Selain itu, doktrin, pendidikan, latihan serta kemampuan TNI harus senantiasa disesuaikan dengan perkembangan dan dinamika ancaman yang ada.
Panglima TNI menekankan agar kelima nilai tersebut dilaksanakan secara konsisten sehingga PRIMA menjadi arah pengembangan kemampuan TNI dalam berpikir, bersikap dan bertindak, baik saat ini maupun di masa yang akan datang.
Peringatan HUT ke-81 TNI di Makorem 142/Tatag tersebut menjadi momentum untuk memperkuat semangat pengabdian prajurit dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus memperkokoh sinergi dan kemanunggalan TNI bersama seluruh komponen masyarakat. (*)










